<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>- t.r.u.e.d.h.i.e.t -</title>
	<atom:link href="http://truedhiet.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://truedhiet.wordpress.com</link>
	<description>Halaman dimana hanya kata-kata yang ada dan bukan jiwa yang bertautan dengan hati...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Dec 2008 14:12:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='truedhiet.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>- t.r.u.e.d.h.i.e.t -</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://truedhiet.wordpress.com/osd.xml" title="- t.r.u.e.d.h.i.e.t -" />
	<atom:link rel='hub' href='http://truedhiet.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>VGA88 on Sixteenhole Event</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/vga88-on-sixteenhole-event/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/vga88-on-sixteenhole-event/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 20:11:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musical Dhiet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Tajuk acaranya (NgeJam Bareng 16Hole members) pada hari Sabtu, 8 November 2008. Bertempat di Cirebon Super Block jalan Dr.Cipto MK Cirebon. Sebuah acara dari sebuah website sixteenhole.com. Portal web Indonesia yang menaungi band-band indie. Setelah dapat rundown main dari wansky sehari sebelumnya. Saya mulai berpikir untuk musik yang akan ditampilkan. Rundown nya ialah : Rundown [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=151&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://api.ning.com/files/cJpl1ygv1WFzTkV*u*1HlrrKLMglUeGay5NOmS0T0yIg7S-hPWjHf4H5wwO5QFwIoNpqd96ysOZkMFZFFBNpVzUbL7p5PR5v/DSC_037501.JPG?width=401&amp;height=600" title="Gw Manggung" class="alignnone" width="401" height="600" /></p>
<p>Tajuk acaranya <strong>(NgeJam Bareng 16Hole members)</strong> pada hari Sabtu, 8 November 2008. Bertempat di Cirebon Super Block jalan Dr.Cipto MK Cirebon. Sebuah acara dari sebuah website <strong>sixteenhole.com</strong>. Portal web Indonesia yang menaungi band-band indie. </p>
<p>Setelah dapat rundown main dari wansky sehari sebelumnya. Saya mulai berpikir untuk musik yang akan ditampilkan. Rundown nya ialah : </p>
<p>Rundown Acara tanggal 8 November 2008</p>
<p>10.00 &#8211; 12.00 check sound<br />
12.00 &#8211; 13.00 clean area<br />
13.00 &#8211; 13.10 Flaming Your day (Cirebon)<br />
13.15 &#8211; 13.25 Tears of sorrow (Cirebon)<br />
13.30 &#8211; 13.40 How If Medusa is dick headed (Cirebon)<br />
13.45 &#8211; 13.55 S.O.L (Cirebon)<br />
14.30 &#8211; 14.40 yudhistira (Cirebon)<br />
14.45 &#8211; 14.55 Beach head (Cirebon)<br />
15.00 &#8211; 15.10 the cadenza (Cirebon)<br />
15.15 &#8211; 15.25 okai dokay ! (Cirebon)<br />
15.30 &#8211; 15.35 Tears of lady black diamond (Bekasi Utara)<br />
15.40 &#8211; 15.50 sepanjang Hari (Cirebon)<br />
15.55 &#8211; 16.05 noise badroom (Cirebon)<br />
16.10 &#8211; 16.20 Autumn Leaves (Cirebon)<br />
16.25 &#8211; 16.35 enka (Yogyakarta)<br />
16.40 &#8211; 16.50 la li la (Bandung)<br />
16.55 &#8211; 17.05 dkaca (Cirebon)<br />
17.20 &#8211; 17.30 biscuit (Bandung)<br />
break magrib<br />
<strong>18.20 &#8211; 18.30 vga88 (Cirebon)</strong><br />
18.30 &#8211; 18.50 Kartos (Wonosobo)<br />
break isya<br />
19.15 &#8211; 19.25 arnet band (Bandar Lampung)<br />
19.25 &#8211; 19.40 iwa (Tanggerang)<br />
19.45 &#8211; 19.55 mr.dika (Jakarta)<br />
20.00 &#8211; 20.10 intan n d aura (Depok)<br />
20.15 &#8211; 20.25 stars (Jakarta)<br />
20.30 &#8211; 20.45 flagell (Karawang-Jakarta)<br />
20.50 &#8211; 21.00 dbamby (Bogor)<br />
21.00 &#8211; 21.15 insomnia (Solo)<br />
21.20 &#8211; 21.25 gain (Cirebon)<br />
21.30 &#8211; 21.45 pop radio (Solo)<br />
21.45 &#8211; 22.00 spitzer (Cirebon)</p>
<p>Suasana Cirebon Super Block seperti biasa crowd dengan beberapa pengunjung yang hadir atau sekedar menikmati hidangan foodcourt pada jam makan siang. Jam 12.30 wib saya checksound dengan rentang waktu yang cukup singkat. Di depan terletak sebuah panggung dengan backdrop vynil. Tata cahaya default regular dari Tenda CSB sendiri. Sedikit frustasi dengan dihadapkan beberapa alat – alat saya yang tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Untungnya ada Nicko sang Sound Engineer saya yang menghibur dengan perkataan <em>“ Tenang aja dhiet.. gw usahain maksimal dengan sound system yang minimal “</em>. Kata-katanya simple tapi terasa dapat menyejukan hati…</p>
<p>Setelah saya checksound selesai ada rekan Tunggul Digital Darling ( pada waktu itu dia main bersama Okay-Dokay ) berkata <em>“ gimana dhiet dah siap semua? Elo band Chiptune dari Cirebon yang berani tampil.. hahaha.. istilahnya pioneer lah “ </em> lalu saya berkata lirih dengan nada rendah <em>“ ah elo bisa aja tung, jadi malu gw.. “</em> . Memang diantara beberapa yang main pada saat itu hanya saya yang main elektronik selain Autumn Leaves yang beriramakan Hip Hop. Entah motivasi atau apa yang pasti kata-kata rekan Tunggul menjadi motivasi terbesar saya. </p>
<p>Setelah mengobrol dengan teman-teman indie Cirebon yang hadir dan kesemuanya saya kenal dan sering share tentang musik dan seni, saya menyalami teman-teman sekenanya. Jam 14.00 saya beres-beres untuk pulang ke rumah dan mandi. Sekitar jam 18.00 saya menuju venue untuk bersiap tampil. Penonton masih terlihat crowd, layaknya gigs yang hadir tetap setia untuk tidak bubar walaupun pada jeda istirahat Sholat Maghrib. Saya pun bersiap-siap mempersiapkan segala alat yang dibutuhkan. Getir terasa karena dihadapkan persoalan alat yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.. Hanya menggunakan Laptop dengan Console VST dan mixer saya siap untuk menggebrak CSB dengan Chiptune.. Ciaaattt  !!</p>
<p>Tepat pukul 19.00 wib akhirnya saya mulai untuk memainkan lagu yang pertama. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Mengebrak dengan lagu <em>Fantastic Turbo</em> miliknya <em>Pixelh8, British England</em> yang di remix ulang. Crowd audience mulai mencerna nada demi nada musik saya. Terlihat dari raut mereka bertanya musik apakah ini. Terus memainkan nada Lo-Fi dan raw 8 bit mendengung bar demi bar. Sungguh euphoria chemistry dari panggung itu terasa begitu luar biasa. Sehingga yang saya rasakan hanya saya sendiri  yang berada di panggung itu..</p>
<p>Lagu pertama selesai, riuh tepuk tangan mulai membahana di sekitar CSB, penonton yang tadinya crowd lalu mulai tampak sedikit demi sedikit tertegun di meja nya masing –masing. Lagu kedua langsung mulai tanpa basa-basi dengan judul <em>Goto 60 Mph</em> irama medium-up beat yang saya ciptakan mulai menambah semangat saya untuk terus berirama. Mulai terasa sedikit demi sedikit penonton menikmati musik saya (entah mulai mencerna atau terbawa irama up beatnya)..</p>
<p>Setelah lagu kedua saya basa-basi berbicara tentang sixteenhole.com dan mengucapkan selamat atas soft launchingnya di Cirebon. Lagu ketiga mulai dimainkan, dengan judul <em>Switchblade Squadron</em> miliknya <em>Covox, Swedia</em> yang di aransemen ulang pastinya. Irama switchblade ini lebih ke up beat dengan BPM 180. Kebayang gimana cepat tempo irama nya. Crowd penonton dibawa menikmati suasana LP seperti DJ. Atau mungkin seperti disco progressive sepintas bila diperhatikan, tipikal lagu-lagu ciptaan Covox. Dengan permainan pitch bending saya mulai membawa crowd ke chemistry yang saya inginkan. Yaitu feel soul dari lagu covox tersebut..</p>
<p>Selesai sudah penampilan saya, audience tampak riuh bertepuk tangan setelah saya mengucapkan terima kasih pada pihak sponsor. Jujur saya puas sekali pada saat itu bukan karena tepuk tangan dari audience, tapi karena saya berhasil membuktikan bahwa saya bisa untuk membuat sesuatu yang relative beda dari yang lainnya. Event tersebut ditutup oleh penampilan Intan D Aura dari depok dengan semangat para member untuk ber-gathering ria. Hari itu saya bisa dan saya beda…. Glourius Day !!</p>
<p><em>( thanks to <strong>Wansky</strong> yang telah menjerumuskan saya pada musik chiptune dan mengalahkan rasa  minder saya untuk tampil…you say “ hajar blehh”  thx you, I love u…. thanks to <strong>Tunggul</strong> yang sudah bersedia meminjamkan Prodikeys – walau ga bisa dipake T_T hehehe.. Thanks to <strong>Pa UQ</strong> yang bersedia meminjamkan laptopnya dengan sukarela-laptop saya rusak 1 hari sebelum event T_T… thanks to <strong>Leni </strong>yang memberikan support via sms-walau tak bisa hadir ^_^… thanks to <strong>Cowet</strong> bwt fotonya yah-satu-satunya pic yang say adapt di event itu…thanks to <strong>Nico</strong> my sound engineer-kalem lay ^_^\/…. thx for all)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=151&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/vga88-on-sixteenhole-event/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://api.ning.com/files/cJpl1ygv1WFzTkV*u*1HlrrKLMglUeGay5NOmS0T0yIg7S-hPWjHf4H5wwO5QFwIoNpqd96ysOZkMFZFFBNpVzUbL7p5PR5v/DSC_037501.JPG?width=401&#38;height=600" medium="image">
			<media:title type="html">Gw Manggung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Srikandie..</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/srikandie/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/srikandie/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Dhiet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Ketika terdiam, maka segalanya menjadi terang Berpendar selayak kunang &#8211; kunang dan yakin bahwa dirinya mendengarkan menunggu hingga kokok ayam tiba tak pernah tuk tak yakini sedetik pun bahwa hari itu akan selalu tiba entah kapan, mungkin besok, mungkin lusa tetap memainkan rebana yang tak berbentuk ini untuk kesekian kalinya&#8230;. ** sebenarnya puisi ini diciptakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=148&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika terdiam,<br />
maka segalanya menjadi terang</p>
<p>Berpendar selayak kunang &#8211; kunang<br />
dan yakin bahwa dirinya mendengarkan</p>
<p>menunggu hingga kokok ayam tiba<br />
tak pernah tuk tak yakini sedetik pun<br />
bahwa hari itu akan selalu tiba<br />
entah kapan, mungkin besok, mungkin lusa<br />
tetap memainkan rebana yang tak berbentuk ini<br />
untuk kesekian kalinya&#8230;.</p>
<p><em>** sebenarnya puisi ini diciptakan tahun 2007, cm karena blog yang di moved kesini. baru ketemu deh.. joy..</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=148&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/srikandie/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fish Weapon</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/fish-weapon/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/fish-weapon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Dhiet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Fish Weapon Ukuran : 1862 x 1147 pixels Kategori : Digital Art, Old Paper Art Editing : Adobe Photoshop CS3 Alat Gambar : - Komentar : Terinsipasi dari lembaran kertas blueprint jaman belanda.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=145&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://truedhiet.files.wordpress.com/2008/12/fish-weapon2.jpg?w=477&#038;h=293" alt="fish-weapon2" title="fish-weapon2" width="477" height="293" class="alignnone size-full wp-image-146" /></p>
<p>Judul       : Fish Weapon<br />
Ukuran      : 1862 x 1147 pixels<br />
Kategori    : Digital Art, Old Paper Art<br />
Editing     : Adobe Photoshop CS3<br />
Alat Gambar : -<br />
Komentar    : Terinsipasi dari lembaran kertas blueprint jaman belanda.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=145&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/fish-weapon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://truedhiet.files.wordpress.com/2008/12/fish-weapon2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fish-weapon2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ingatan tentang Kalian by Dewi Lestari</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/ingatan-tentang-kalian-by-dewi-lestari/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/ingatan-tentang-kalian-by-dewi-lestari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:39:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Pujangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Dalam ranah yang mereka sebut keabadian Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu Walau tiada aksara di sana Walau tiada wujud yang serupa Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua Sebagaimana engkau semua menemukanku Empat, lima, dan enam Berapapun banyaknya kita tersempal Perlahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=142&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam ranah yang mereka sebut keabadian<br />
Aku bersemayam bersama ingatan tentang kalian<br />
Kudekap dan kuucap namamu satu demi satu<br />
Sebelum lautan cahaya melarutkan kita dan waktu<br />
Walau tiada aksara di sana<br />
Walau tiada wujud yang serupa<br />
Tanpa pernah tertukar aku menemukanmu semua<br />
Sebagaimana engkau semua menemukanku<br />
Empat, lima, dan enam<br />
Berapapun banyaknya kita tersempal<br />
Perlahan lebur menjadi tunggal<br />
Dua, satu, dan kosong<br />
Bersama kita lenyap menjadi tiada</p>
<p>Dalam ranah yang mereka sebut kehidupan,<br />
Aku dan kalian menangis dan meregang di antara ruang<br />
Aku dan kalian tersesat dalam belantara nama dan rupa<br />
Masihkah kau mengenali aku?<br />
Masihkah aku mengenalimu?<br />
Jiwa kita tertawa dan berkata:<br />
Berjuta kelahiran dan kematian telah kita dayakan,<br />
Berjuta kata dan sabda telah kita ucapkan,<br />
Berjuta wadah dan kaidah telah kita mainkan,<br />
Hanya untuk tahu tiada kasih selain cinta<br />
Dan tiada jalinan selain persahabatan<br />
Meski tak terkira banyaknya nama dicipta<br />
Meski tak terhingga rasa menjadi pembeda<br />
Aku akan menemukanmu semua, sebagaimana engkau semua menemukanku<br />
Sahabat, jika kita berpecah raga<br />
Satu, jika kita memadu raga<br />
Tiada, jika hanya jiwa</p>
<p>Inilah kenangan yang kucuri simpan<br />
Saat kubersemayam dalam ranah yang mereka sebut keabadian</p>
<p>Inilah kenangan yang kusisipkan di sela-sela mentari dan bulan<br />
Yang kelak mereka bisikkan saat kucari kalian<br />
Dalam belantara yang dinamai kehidupan</p>
<p>Ingatan pertama dan terakhir<br />
Yang mengikuti saat aku terlahir<br />
Yang bersembunyi hingga kalian semua hadir<br />
Yang menemani saat udara usai mengalir</p>
<p>Cinta dan sahabat<br />
Sahabat dan cinta<br />
Itulah jiwa yang terpecah dengan sederhana</p>
<p>Sisanya fana</p>
<p><em>**tulisan Dewi Lestari ini dibacakan padaDove “Real Beauty Real Friends”, 4 Okt 2006, Jakarta. Link-balik ada disini http://www.dewilestari.com/b/category/puisi/</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=142&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/ingatan-tentang-kalian-by-dewi-lestari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan by Dewi Lestari</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/semangkok-acar-untuk-cinta-dan-tuhan-by-dewi-lestari/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/semangkok-acar-untuk-cinta-dan-tuhan-by-dewi-lestari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa Pujangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci: Apa itu cinta? Apa itu Tuhan? Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=138&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:<br />
Apa itu cinta?<br />
Apa itu Tuhan?</p>
<p>Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?”</p>
<p>Demi sopan santun dan etika budaya, aku tahankan garpu agar tak mencelat ke bola matanya, dan kugenggam erat-erat piringku agar tak pecah jadi dua di atas batok kepala wartawan itu. Aku hanya menggeram dan mengulang: “Cinta?”</p>
<p>Si wartawan pun berpikir bahwa pertanyaan brilian berikutnya akan memancing jawaban lebih panjang dan lebih mencengangkan, yang akan menghibur para pembaca majalahnya bersama-sama artikel 10+1 cara bercinta paling panas dan peta terbaru menuju spot-spot orgasmik yang selama ini tersembunyi. Dan dia sungguhan nekat bertanya: “Menurut Anda, apa itu Tuhan?”</p>
<p>Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu.</p>
<p>Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis—yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya. Aku teringat buih dan busa di sudut mulutku saat berdiskusi tentang cinta dan Tuhan—yang jika dikumpulkan barangkali bisa merendam tubuhku sendiri di bak mandi. Aku teringat jerih payah, keringat, air mata, pegal-pegal, kurang tidur, tak makan, tak minum, yang telah kutempuh demi mencari apa itu cinta dan Tuhan. Dan kini, meski sanggup, tak muncul secuil keinginan pun untuk mengutip data dalam ingatanku.</p>
<p>Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk. “Begini,” aku mulai menjelaskan, “pertama-tama, dengan mengetahui apa itu cinta, kita akan mengetahui Tuhan. Dan ketika kita mengetahui Tuhan, kita juga jadi tahu apa itu cinta. Jadi, kita bisa mengungkap keduanya sekaligus.”</p>
<p>Mendengarnya, wartawan itu kian mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias. Semakin yakinlah ia betapa cemerlangnya pertanyaan-pertanyaan itu, betapa bermutu dan menantangnya.</p>
<p>“Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersama-sama. Anda setuju?” ucapku dengan sikap tubuh yang seolah hendak mengambil ancang-ancang.</p>
<p>Wartawan itu terkesiap. Tak siap. Namun rasa penasarannya terusik, dan ada keinginan kuat untuk mempertahankan reputasinya sebagai sang penanya brilian. Akhirnya, ia mengangguk setuju.</p>
<p>Aku lantas menyambar mangkok berisi acar, mencomot dua bawang merah utuh, dan memberikan satu butir kepada wartawan itu. “Ayo, kita kupas. Pakai kuku.” Dan tanpa menunggu, dengan semangat dan giat aku mulai mengupas.</p>
<p>Meski ragu, si wartawan mulai ikut. Mukanya tampak enggan dan berkernyit-kernyit tanda tak rela.</p>
<p>“Ayo. Terus, sampai habis.” Sesekali aku mengingatkan, karena sering kali dia berhenti atau melambat.</p>
<p>Demikianlah kami berdua, dengan mata mengerjap-ngerjap perih, mengupasi bawang dengan kuku yang akhirnya jadi lebih mirip mencacah, dengan serpih-serpih bawang yang berantakan mengotori meja. Dan akhirnya kami berhenti ketika serpih terakhir sudah terlampau kecil untuk bisa dikupas.</p>
<p>Berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, aku pun berkata: “Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.” Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata: “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, dan bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”</p>
<p>Ditandai air mata cinta yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai.</p>
<p>Artikel itu kemudian terbit. Tanpa baris-baris kalimat. Hanya gambar besar semangkok acar bawang. Dan mereka yang membacanya menyangka bahwa itu resep afrodisiak. Mereka lalu melahap semangkok acar bawang, bercinta, sambil terus bertanya-tanya: apa itu cinta? Apa itu Tuhan? </p>
<p><em>**Tulisan ini dibuat Dewi Lestari pada tanggal September 16, 2007, untuk link-baliknya ada di sini <a href="http://dee-idea.blogspot.com/2007/09/blog-post_16.html">http://dee-idea.blogspot.com/2007/09/blog-post_16.html</a>dan official websitenya <a href="http://www.dewilestari.com">http://www.dewilestari.com</a></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=138&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/semangkok-acar-untuk-cinta-dan-tuhan-by-dewi-lestari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Parasit Lajang by Ayu Utami</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/parasit-lajang-by-ayu-utami/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/parasit-lajang-by-ayu-utami/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 18:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dhiet Berkata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[10+1 ALASAN UNTUK TAK KAWIN Inilah sebelas alasan kenapa tidak menikah adalah sikap politik saya: 1. Memangnya harus menikah? 2. Tidak merasa perlu. 3. Tidak peduli. 4. Amat peduli. Jika di satu sisi saya mudah dianggap tak peduli pada nilai yang dipercaya ibu saya, di sisi lain saya sesungguhnya amat peduli. Awalnya sederhana saja. Sejak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=135&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://ayuutami.com/images/stories/parasit_lajang.jpg" title="Parasit lajang" class="alignnone" width="130" height="200" /></p>
<p><strong>10+1 ALASAN UNTUK TAK KAWIN</strong></p>
<p>Inilah sebelas alasan kenapa tidak menikah adalah sikap politik saya:</p>
<p>1. Memangnya harus menikah?</p>
<p>2. Tidak merasa perlu.</p>
<p>3. Tidak peduli.</p>
<p>4. Amat peduli. Jika di satu sisi saya mudah dianggap tak peduli pada nilai yang dipercaya ibu saya, di sisi lain saya sesungguhnya amat peduli. Awalnya sederhana saja. Sejak kecil saya melihat masyarakat mengagungkan pernikahan. Ironisnya, dongeng Cinderella, Putri Salju, Putri Tidur, Pretty Woman tamat pada upacara, tukar cincin, dentang lonceng, atau ciuman pada balkon. Artinya, tak ada dongeng tentang perkawinan itu sendiri.</p>
<p>Sesungguhnya pada titik dongeng berhenti, seorang anak diperkenalkan pada yang realistis. Yang tidak diceritakan itu. Yaitu, bahwa pernikahan tidak ideal. Selain kasih sayang, juga ada kebosanan, penyelewengan, pemukulan. Tapi ini tabu dibicarakan. Sebaliknya, masyarakat mereproduksi terus nilai yang mengagungkan pernikahan. Mereka menempatkan jodoh sebagai titik takdir, sejajr dengan kelahiran dan kematian. Suatu proses yang wajib dilalui manusia. Seolah-olah alamiah, bahkan kodratiah.</p>
<p>Barangkali percintaan memang amat romantis sehingga orang, misalnya saya dan pacar saya kalau lagi jatuh cinta, suka berkhayal bahwa kami dipersatukan oleh malaikat (tentu khayalan ini berakhir bersama selesainya hubungan). Perasaan melambung itu mungkin yang membuat kita ogah mengakui bahwa lahir dan mati adalah proses biologis, sementara menikah adalah konstruksi sosial belaka.</p>
<p>Persoalannya, selalu ada yang tidak beres dengan konstruksi sosial. Pada umumnya pernikahan masih melanggengkan dominasi pria atas wanita. Kecuali di beberapa negara liberal Eropa, hukum tidak selalu berpihak pada istri. Di Indonesia ini terlihat pada setidaknya undang-undang perkawinan, perburuhan, maupun imigrasi. Di masyarakat, begitu banyak pengaduan kasus kekerasan domestik terhadap perempuan. Kita dengar dari media massa tentang pemukulan atas pembantu rumah tangganya Imaniar hingga atas Ayu Azhari oleh suaminya sendiri. Ketimpangan jender harus diakui.</p>
<p>Tapi puncak dari pengesahan supremasi pria atas wanita ada dalam poligami. Tema yang hampir-hampir tak pernah dikembangkan, bahkan dalam dongeng 1001 malam. (menurut saya topik ini digarap dengan amat muram dan mencekam dalam Raise the Red Lantern oleh Shang Yi Mou.) Bahwa seorang lelaki boleh memiliki banyak bini, tapi seorang istri tidak dibenarkan memiliki banyak laki. Padahal, secara biologis, perempuanlah yang bisa betul-betul yakin bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya sendiri.</p>
<p>Waktu remaja tentulah saya merasa tidak nyaman membaca berita bahwa Rhoma Irama kawin lagi dengan Rika Rachim, yang lebih muda dan segar daripada Veronica, istri pertamanya yang kemudian minta cerai karena tak mau dimadu. (Saya menyetujui perselingkuhan, sebab perselingkuhan istri maupun suami sama-sama tidak disahkan hukum.)</p>
<p>Saya anti-poligami. Tapi bukannya tidak bisa melihat rasionalisasi di balik kawin ganda ini. Poligami adalah masuk akal di dalam masyarakat yang amat patriarkal, yang berasumsi bahwa pria superior, bahwa pria menyantuni perempuan dan tak mungkin sebaliknya, sehingga tanpa lelaki seorang perempuan tak memiliki pelindung.</p>
<p>Para pendukung poligami hanya adil untuk sementara, yaitu dalam konteks masyarakat yang patriarkal. Dan bahwa kita punya pekerjaan besar untuk mengubah sistem yang cenderung berpihak pada pria itu. Makanya, saya kecewa ketika dalam periode Gus Dur, Menteri Pemberdayaan Perempuan tidak menentang pencabutan PP 10 yang melarang pegawai negeri beristri banyak. (Dalam hal ini saya lebih suka Soeharto daripada Hamzah Haz).</p>
<p>Lantas, apa hubungan semua perkara besar itu dengan saya? Hubungannya adalah bahwa saya peduli, yaitu jengkel, dengan idealisasi tadi. Barangkali saya ingin mengatakan bahwa ada persoalan di balik pengagungan atas pernikahan. Pernikahan tidak dengan sendirinya membuat hidup Anda sempurna atau bahagia. Saya ingin mengingatkan, ada jalan alternatif. Perempuan tak perlu menjadi istri kesekian atau kawin dengan lelaki bertelapak tangan ringan hanya demi jadi Nyonya Fulan.</p>
<p>Catatan: Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Juga memperingatkan para suami bahwa istri bisa tak bergantung pada dia. Dengan demikian, mestinya harga istri menjadi lebih mahal sehingga harus diperlakukan sebaik-baiknya. (Nah, saya peduli dan berniat baik, kan?)</p>
<p>5. Trauma<br />
Saya punya trauma. Bukan pada lelaki, sebagaimana yang dikira banyak orang, misalnya seorang ibu pendakwah di televisi. Melainkan pada sesama perempuan yang tidak sadar bahwa mereka tunduk dan melanggengkan nilai-nilai patriarki.<br />
Saya punya dua bibi pemuja perkawinan. Salah satunya begitu mengagungkan persuntingan sehingga jika saya menikah, ia takkan menyapa saya dalam suratnya sebagai Ayu, melainkan sebagai Nyonya Anu. Tapi mereka sendiri tidak menikah. Bukan karena tak mau, melainkan karena tak dapat suami. Mereka juga pencemburu pada perempuan lain yang bukan sedarah dalam keluarga kami. Mereka cenderung menganggap anak laki-laki lebih berharga ketimbang anak perempuan. Syukurlah bahwa ayah-ibu saya memperlakukan sama putra-putrinya, sehingga saya tak punya dendam, sembari tetapmelihat ketidakadilan.</p>
<p>Saya juga punya guru-guru di SD dan SMP yang memenuhi segala stereotipe tentang perawan tua, perempuan yang &#8220;tidak laku&#8221;. Mereka tidak mendapatkan suami. Mereka adalah guru-guru paling killer di sekolah. Mereka menghukum dengan berlebihan. Mereka membenci murid-murid yang cantik. Setidaknya begitu mudah berang pada yang berwajah ayu. Syukurlah, saya tidak ayu dan cenderung tomboy, sehingga mereka baik pada saya. Dengan demikian, saya punya simpati baik pada si guru maupun pada korbannya, teman saya yang cantik. Sembari, tetap merasakan ketidakadilan.</p>
<p>Pada masa kanak dan remaja, kesejajaran antara &#8220;perawan tua&#8221; dengan tabiat pendengki tampak begitu nyata, sehidup kakak tiri Cinderella. Untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak saling berkaitan adalah naif. Lagi pula, demikianlah stereotipe yang dilanggengkan masyarakat. Tapi, untuk mempercayai bahwa perempuan yang tidak kawin niscaya mempunya problem psikologi juga terlalu menyederhanakan persoalan.</p>
<p>Inilah trauma saya: bahwa saya melihat sindrom perawan tua. Sejak remaja saya merasa terganggu olehnya. Bertahun lalu saya menulis dalam diary, &#8220;Barangkali saya tidak menikah kelak, tetapi saya tidak akan menjadi pencemburu.&#8221; Mungkin inilah jalan yang saya pilih: masuk ke dalam trausma itu dan membalikkannya. Masuk ke dalam prasangka masyarakat dan membuktikan kesalahannya.</p>
<p>Bibi saya, guru saya, adalah orang yang terluka. Mereka dilukai oleh masyarakat yang hanya menganggap sempurna wanita berkeluarga dan menganggap tak laku perempuan lajang tua. Dan luka itu adalah milik setiap perempuan. Saya ingin mengorak luka itu, luka saya juga, dan menunjukkan bahwa ini hanya konstruksi sosial, sehingga kita tidak perlu menjadi sakit karenanya.</p>
<p>Tapi alasan ini kok terlalu heroik, ya? Nah, alasan berikutnya adalah ini:</p>
<p>6. Tidak berbakat. Rasanya, saya tidak berbakat untuk segala yang formal dan institusional. Contohnya, sejak SMP saya tak pernah menjadi murid yang baik.</p>
<p>7. Kepadatan penduduk. Saya tidak inign menambah pertumbuhan penduduk dengan membelah diri.</p>
<p>8. Seks tidak identik dengan perkawinan. Wah, pertama ini konsekuensi alasan ke-5 tadi: saya kan harus membuktikan bahwa perawan tua dan menikah tidak berhubungan. Kedua, siapa bilang orang menikah tidak berhubungan dengan bukan pasangannya?</p>
<p>9. Sudah telanjur asyik melajang.</p>
<p>10. Tidak mudah percaya. Ibu saya selalu mengatakan bahwa menikah membuat kita tidak kesepian di hari tua. Tapi, siapa yang bisa jamin bahwa pasangan tak akan bosan dan anak tidak akan pergi? Tak ada yang abadi di dunia ini. Jadi sama saja.</p>
<p>+1<br />
Dan kenapa saya menceritakan semua itu? Sebab selalu ditanya. Inilah anehnya kesadaran. Ketika kita menjalani hidup, sebetulnya semua mengalir begitu saja. Tapi ketika kita ditanya, kita seperti dipaksa untuk menyadari dan merumuskan. Lantas, sesuatu yang semula terasa wajar menjelma sikap politik.</p>
<p><em>** tulisan diatas adalah cuplikan dari buku PARASIT LAJANG karya Ayu Utami.. foto di embed dari : http://ayuutami.com/</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=135&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/parasit-lajang-by-ayu-utami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ayuutami.com/images/stories/parasit_lajang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Parasit lajang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Wiji Thukul</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-wiji-thukul/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-wiji-thukul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 17:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dhiet Berkata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[PRELOAD Y. B. Mangunwijaya, dalam sebuah pertemuan di Solo (30/10/1984), mengungkapkan kerinduannya akan tampilnya &#8216;Splendor Veritatis&#8217; (Lat. Splendor kecemerlangan atau cahaya; Veritas kebenaran). Splendor Veritatis atau Cahaya Kebenaran adalah orang yang mampu memberikan sumbangannya yang relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia yang mendambakan pemanusiawian dirinya. Orang-orang dengan fungsi dan daya Splendor Veritatis semacam ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=133&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://asiacalling.kbr68h.com/files/Indonesia_Wiji_Thukul__web_.JPG" title="Wiji Thukul" class="alignnone" width="185" height="200" /></p>
<p><strong>PRELOAD</strong></p>
<p>Y. B. Mangunwijaya, dalam sebuah pertemuan di Solo (30/10/1984), mengungkapkan kerinduannya akan tampilnya &#8216;Splendor Veritatis&#8217; (Lat. Splendor kecemerlangan atau cahaya; Veritas kebenaran). Splendor Veritatis atau Cahaya Kebenaran adalah orang yang mampu memberikan sumbangannya yang relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia yang mendambakan pemanusiawian dirinya.</p>
<p>Orang-orang dengan fungsi dan daya Splendor Veritatis semacam ini sesungguhnya ada, akan tetapi mereka lebih cenderung bersembunyi di balik ritualitas simbolik. Mereka antara lain seniman dan ilmuwan di perguruan tinggi. Seniman bersembunyi di balik slogan &#8220;resi di atas angin,&#8221; dan ilmuwan &#8220;di dalam menara gading&#8221;. Keduanya tidak banyak mempedulikan keretakan diri manusia yang mengalami krisis dalam skala global, yang kini sudah dalam stadium parah.</p>
<p>Harapan YB Mangunwijaya itu barangkali sudah terwujud dalam diri penyair muda Wiji Thukul (1963 &#8211; &#8230;). Wiji Thukul muncul dengan prinsip kreativitas puitik yang tegas: menyuarakan kenyataan yang keras dan menekan dalam kehidupan nyata. Seperti yang diharapkan Mangunwijaya, estetika untuk penikmatan pancaindra ataupun intelektual bagi Wiji Thukul bukanlah hal yang utama. Hal yang utama justru adalah penjaminan eksistensial dalam pergulatan to be or not to be. Seperti &#8220;Rumah Jawa,&#8221; kata Mangunwijaya memberikan analogi, bukan soal teknis-pragmatis, melainkan merupakan sumber energi kehidupan.</p>
<p>Tulisan ini bermaksud mengemukakan sebuah kajian awal tentang Wiji Thukul, khususnya mengenai visi dan sikap kreatif baru yang secara sadar dimiliki penyair ini. Wiji Thukul adalah seorang penyair yang punya warna tersendiri dalam sejarah sastra Indonesia modern. Dia kini banyak menyita perhatian pengamat sastra Indonesia, bukan hanya karena penyair ini &#8220;menghilang secara misterius&#8221; pada saat-saat tumbangnya rezim Orde baru, melainkan juga karena dia menawarkan sebuah visi dan sikap kreatif baru. Kehadiran Wiji Thukul tampaknya memberi warna tersendiri dalam bidang puisi Indonesia mutakhir.</p>
<p>Untuk itu, akan dikemukakan latar belakang kehidupan penyair, tema-tema yang menonjol dalam puisi-puisinya, dan akhirnya saya akan memberikan sebuah catatan tentang visi dan sikap kreatif baru yang ditawarkan Wiji Thukul. </p>
<p><strong>BIOGRAFI</strong></p>
<p>Wiji Thukul lahir 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Dia sendiri datang dari keluarga tukang becak. Sebagai anak tertua dari tiga bersaudara dia berhasil menamatkan SMP (1979), masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, tetapi tidak tamat (1982).</p>
<p>Wiji Thukul selanjutnya berjualan koran, kemudian oleh tetangganya dia diajak bekerja di sebuah perusahan mebel antik sebagai tukang pelitur. Pada waktu bekerja sebagai tukang pelitur itu dia dikenal sebagai penyair pelo (cadel) yang sering mendeklamasikan puisinya untuk teman-teman sekerjanya.</p>
<p>Wiji Thukul menulis puisi sejak masih duduk di bangku SD. Dia mulai tertarik pada teater ketika SMP. Dia bergabung dalam kelompok teater JAGAT (Jagalan Tengah). Bersama kelompok ini dia pernah keluar masuk kampung ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dsbnya. Tiga bulan menjadi wartawan Masa Kini.</p>
<p>Istrinya Sipon bekerja sebagai tukang jahit. Wiji Thukul juga membantu istrinya dengan menerima pesanan sablonan kaos, tas, dll. Dia memiliki dua orang anak: Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Prestasi tertinggi di bidang sastra: dia menerima WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra.</p>
<p>Sejak Peristiwa 27 Juli 1996 yang menghebohkan, Wiji Thukul menjadi salah seorang korban politik Orde Baru. Hingga sekarang belum juga diketahui di mana Wiji Thukul berada. </p>
<p>Karya-karya Wiji Thukul telah dihimpun dalam sebuah buku yang diberi judul Aku Ingin Jadi Peluru (2000) dan diterbitkan Penerbit Indonesia Tera, Magelang. Penerbit ini sangat berjasa dalam menghimpun karya-karya Thukul yang semula tersebar di berbagai manuskrip dan terbitan. Dari Taman Budaya Surakarta, diperoleh dua buah manuskrip, yakni &#8220;Darman dan Lain-lain&#8221;, dan &#8220;Puisi Pelo&#8221;. Kumpulan terakhir &#8220;Baju Loak Sobek Pundaknya&#8221; diperoleh dari Jaap Erkelens (Perwakilan KITLV di Indonesia). Sisanya diperoleh dari Mbak Sipon (istri Wiji Thukul). Terbitnya buku ini sangat memudahkan kita menelusuri karya-karya Wiji Thukul.</p>
<p>Aku Ingin Jadi Peluru berisi 136 puisi yang dibagi atas lima buku atau lima kumpulan puisi. Buku 1: Lingkungan Kita Si Mulut Besar berisi 46 puisi.. Buku 2: Ketika Rakyat Pergi berisi 17 puisi. Buku 3: Darman dan Lain-lain berisi 16 puisi. Buku 4: Puisi Pelo berisi 29 puisi. Dan Buku 5: Baju Loak Sobek Pundaknya berisi 28 puisi. Dalam catatan penerbit, Buku 5 merupakan kumpulan sajak-sajak yang ditulis Wiji Thukul ketika ia berada di masa pelarian.</p>
<p>Dalam proses kreatifnya, Wiji Thukul memiliki prinsip tersendiri. Puisi bagi dia adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan dirinya selaku orang kecil, orang-orang tertindas, yang secara kebetulan mewakili suara kaum tertindas pada umumnya. Dia sesungguhnya tidak bermasud membela rakyat (penyair kerakyatan), melainkan membela dirinya sendiri, lingkungan, komunitas yang menghidupi dirinya: tukang pelitur, istri tukang jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan hidupnya yang melarat. </p>
<p><strong>PUISI</strong></p>
<p><em>Bunga dan Tembok</em></p>
<p>Seumpama bunga<br />
Kami adalah bunga yang tak<br />
Kau hendaki tumbuh<br />
Engkau lebih suka membangun<br />
Rumah dan merampas tanah<br />
Seumpama bunga<br />
Kami adalah bunga yang tak<br />
Kau kehendaki adanya<br />
Engkau lebih suka membangun<br />
Jalan raya dan pagar besi<br />
Seumpama bunga<br />
Kami adalah bunga yang<br />
Dirontokkan di bumi kami sendiri<br />
Jika kami bunga<br />
Engkau adalah tembok itu<br />
Tapi di tubuh tembok itu<br />
Telah kami sebar biji-biji<br />
Suatu saat kami akan tumbuh bersama<br />
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!<br />
Dalam keyakinan kami<br />
Di manapun tirani harus tumbang!</p>
<p>(Wiji Thukul)</p>
<p><em>Seorang Buruh Masuk Toko</em></p>
<p>masuk toko<br />
yang pertama kurasa adalah cahaya<br />
yang terang benderang<br />
tak seperti jalan-jalan sempit<br />
di kampungku yang gelap</p>
<p>sorot mata para penjaga<br />
dan lampu-lampu yang mengitariku<br />
seperti sengaja hendak menunjukkan<br />
dari mana asalku</p>
<p>aku melihat kakiku &#8211; jari-jarinya bergerak<br />
aku melihat sandal jepitku<br />
aku menoleh ke kiri ke kanan &#8211; bau-bau harum<br />
aku menatap betis-betis dan sepatu<br />
bulu tubuhku berdiri merasakan desir<br />
kipas angin<br />
yang berputar-putar halus lembut<br />
badanku makin mingkup<br />
aku melihat barang-barang yang dipajang<br />
aku menghitung-hitung<br />
aku menghitung upahku<br />
aku menghitung harga tenagaku<br />
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik<br />
aku melihat harga-harga kebutuhan<br />
di etalase<br />
aku melihat bayanganku<br />
makin letih<br />
dan terus diisap</p>
<p>10 september 1991</p>
<p><em>*foto di embed dari : http://asiacalling.kbr68h.com/<br />
**Achieved :  dari berbagai sumber</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=133&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-wiji-thukul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://asiacalling.kbr68h.com/files/Indonesia_Wiji_Thukul__web_.JPG" medium="image">
			<media:title type="html">Wiji Thukul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Jalaludin Rumi</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-jalaludin-rumi/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-jalaludin-rumi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 17:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dhiet Berkata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Mawlana Jalaludin Rumi Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani ( Grandson of Mawlana Rumi ) “Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan, Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia begitu indah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=130&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://destogate.files.wordpress.com/2007/09/rumi.jpg?w=450&#038;h=603" title="JALALUDIN RUMI" class="alignnone" width="450" height="603" /><br />
<strong>Mawlana Jalaludin Rumi</strong><br />
Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani<br />
( Grandson of Mawlana Rumi )</p>
<p>“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,<br />
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih<br />
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap<br />
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih<br />
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia<br />
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.<br />
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang<br />
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan<br />
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika<br />
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.</p>
<p>( Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil<br />
al-Haqqani &#8211; Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus<br />
Turki, September 1998)</p>
<p>————————————–</p>
<p>Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang<br />
tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah<br />
guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat<br />
yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah<br />
sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh<br />
besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan<br />
kalangan seniman sekitar tahun l648.</p>
<p>Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan<br />
akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di<br />
zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit<br />
itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila<br />
mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu<br />
yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan<br />
cepat mereka ingkari dan tidak diakui.</p>
<p>Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah<br />
yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib.<br />
Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula,<br />
kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat<br />
mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam<br />
agama samawi, bisa menjadi goyah.</p>
<p>Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam<br />
menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan<br />
yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan<br />
para budak yang tunduk patuh kepada panca indera.<br />
Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah.<br />
Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak<br />
terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula<br />
memanjakannya.”</p>
<p>Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena<br />
tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum<br />
pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan<br />
selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah<br />
penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang<br />
lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang<br />
tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah<br />
Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah<br />
kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.</p>
<p><strong>PENGARUH TABRIZ</strong></p>
<p>Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi,<br />
ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun<br />
pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan<br />
menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian<br />
mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.</p>
<p>Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30<br />
September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap<br />
Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi.<br />
Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya<br />
dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal<br />
sebagai daerah Rum (Roma).</p>
<p>Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah<br />
seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena<br />
kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia<br />
digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu<br />
menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan<br />
mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin<br />
ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh<br />
hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk<br />
keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima<br />
tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup<br />
berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain.<br />
Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut).<br />
Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya<br />
(Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap<br />
di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad,<br />
mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga<br />
mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama<br />
yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula<br />
ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.</p>
<p>Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada<br />
Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan<br />
pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga<br />
menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu.<br />
Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut<br />
mengajar di perguruan tersebut.</p>
<p>Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya<br />
sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya<br />
yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga<br />
menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak<br />
tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika<br />
Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul<br />
para ulama dari berbagai penjuru dunia.</p>
<p>Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau<br />
sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi<br />
adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah<br />
yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana<br />
seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan<br />
ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu<br />
berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau<br />
berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin<br />
alias Syamsi dari kota Tabriz.</p>
<p>Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan<br />
khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya.<br />
Tiba-tiba seorang lelaki asing–yakni Syamsi<br />
Tabriz–ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan<br />
riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu<br />
Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat<br />
pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab.<br />
Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah<br />
bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada<br />
Tabriz yang ternyata seorang sufi.</p>
<p>Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku<br />
ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar<br />
tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari<br />
sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski<br />
sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah<br />
kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu<br />
melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”</p>
<p>Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan<br />
Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk<br />
berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan<br />
mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi<br />
penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan<br />
menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang<br />
himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams<br />
Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya,<br />
dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz.</p>
<p>Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi<br />
baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas<br />
dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa<br />
hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair<br />
yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi.<br />
Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700<br />
bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran<br />
tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk<br />
apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.<br />
Bahkan Masnavi sering disebut Qur’an Persia. Karya<br />
tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat<br />
baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam<br />
bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang<br />
metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya<br />
kepada sahabat atau pengikutnya).</p>
<p>Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan<br />
Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di<br />
Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para<br />
Darwisy yang berputar-putar). Nama itu muncul karena<br />
para penganut thariqat ini melakukan tarian<br />
berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling,<br />
dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.</p>
<p><strong>WAFATNYA MAWLANA RUMI</strong></p>
<p>Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya.<br />
Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya<br />
tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar<br />
bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita<br />
sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih<br />
menampakkan kejernihannya.</p>
<p>Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan,<br />
“Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu<br />
dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika<br />
engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan<br />
bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan<br />
pahit.”</p>
<p>Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember<br />
1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke<br />
Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan,<br />
penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan<br />
kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai<br />
Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para<br />
pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati<br />
tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.</p>
<p><strong>“SAMA”, Tarian Darwis yang Berputar</strong></p>
<p>Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya<br />
dalam tarian “Sama” ketika itu seorang sahabatnya<br />
memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan,<br />
“Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan<br />
Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga<br />
berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama<br />
yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi<br />
Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud musik<br />
cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.</p>
<p>Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi<br />
dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang<br />
menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang<br />
mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha<br />
Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian “Sama” sering<br />
dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan<br />
minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat<br />
Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota<br />
Konya.</p>
<p>Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji<br />
Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari<br />
tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi<br />
menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, “ketika<br />
gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk<br />
bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”.</p>
<p>Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau<br />
Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di<br />
Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh<br />
Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh<br />
Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah<br />
keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga<br />
tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak<br />
kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah<br />
bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.</p>
<p>Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam<br />
raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet.<br />
Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam<br />
situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan<br />
khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk<br />
menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi<br />
dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang<br />
menyenangkan.</p>
<p>Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar<br />
menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya.<br />
Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan<br />
seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling<br />
kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang<br />
sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar<br />
sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau<br />
abu-abu yang menandakan batu nisan.</p>
<p>Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan<br />
menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas<br />
menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah<br />
menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua<br />
yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi<br />
wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw<br />
yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik,<br />
gendang, marawis dan seruling ney.</p>
<p>Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya<br />
maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara<br />
perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan<br />
yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada puatran<br />
ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas<br />
jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan<br />
kuburan untuk mengalami ‘ mati sebelum mati”,<br />
kelahiran kedua.</p>
<p>Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka<br />
mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran<br />
tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari.<br />
Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan<br />
alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan<br />
musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.</p>
<p>Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan<br />
Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat.<br />
Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa<br />
lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini<br />
sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau<br />
perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan<br />
gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir<br />
penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk<br />
tangan karena “Sama” adalah sebuah ritual spiritual<br />
bukan sebuah pertunjukan seni.</p>
<p>Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah<br />
dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun<br />
Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar<br />
kebebasannya ketika berada dibawah dominasi<br />
Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan<br />
Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan<br />
memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan<br />
musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad<br />
ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi<br />
anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia<br />
menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.</p>
<p>Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satu<br />
dari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan<br />
sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu dikerajaan<br />
Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka,<br />
Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengarh<br />
diseluruh kerajaan dan prestasi cultural mereka<br />
dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal<br />
di barat., Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling<br />
mereka menyita perhatian public. Selama abad 19,<br />
sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki<br />
menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang<br />
dating ke Turki.</p>
<p>Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan<br />
diri ditanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal<br />
Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua<br />
kelompok darwis lengkap dengan upacara serta<br />
pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya<br />
diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum<br />
Negara.</p>
<p>Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan<br />
Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan<br />
Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat.<br />
Bagi Ataturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi<br />
modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim<br />
ق mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan<br />
mengajar agama Islam di Siprus, Turki.</p>
<p><strong>Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani<br />
</strong><br />
Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan<br />
menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu<br />
beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah<br />
Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau<br />
Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun<br />
sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan<br />
karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang<br />
Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan<br />
mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.</p>
<p>Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah<br />
menuju masjid di tempat kelahirannya dan<br />
mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan<br />
penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh<br />
Nazim ق pergi menuju masjid besar di Nikosia dan<br />
melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para<br />
pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran<br />
hukum.</p>
<p>Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ق terus<br />
mengumandangkan azan di menara-menara masjid di<br />
seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus<br />
bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau.<br />
Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan<br />
azan, namun Syaikh Nazim ق mengatakan, “ Tidak,<br />
aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus<br />
mendengar panggilan azan untuk shalat.”</p>
<p>Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim<br />
didakwa atas 114 kasus mngumandangkan azan diseluruh<br />
Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka<br />
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada<br />
hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki.<br />
Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan<br />
untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih<br />
menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid<br />
dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab.<br />
Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada<br />
Mawlana Syaikh Nazim.</p>
<p>Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara<br />
dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat<br />
wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang<br />
kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan<br />
wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah<br />
Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian<br />
“Sama” Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya<br />
dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural<br />
untuk para wisatawan.</p>
<p>Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara<br />
Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan<br />
berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang<br />
illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak<br />
Ataturk melarang agama mereka.</p>
<p>Wa min Allah at Tawfiq </p>
<p>————————————-</p>
<p>Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan</p>
<p>“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan<br />
makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi<br />
gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,<br />
menggemakan ucapan-ucapan kita.”</p>
<p>Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan<br />
Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar,<br />
melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam<br />
debu sejarah. “Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap<br />
berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,” tulis<br />
Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.</p>
<p>Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi<br />
bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk<br />
pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis<br />
yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember,<br />
jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan<br />
penjuru angin mereka berarak untuk memperingati<br />
kematian Rumi, 727 tahun silam.</p>
<p>Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah<br />
menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan<br />
Islam dan silang sengketa paham? “Dialah penyair<br />
mistik terbesar sepanjang zaman,” kata orientalis<br />
Inggris Reynold A Nicholson. “Ia bukan nabi, tetapi ia<br />
mampu menulis kitab suci,” seru Jami, penyair Persia<br />
Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.</p>
<p>Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt<br />
mengabadikannya dikanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan<br />
penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,<br />
“Maulana mengubah tanah menjadi madu…. Aku mabuk<br />
oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya.” Bahkan, Paus<br />
Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:<br />
“Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala<br />
penuh hormat mengenang Rumi.”</p>
<p><strong>Besar dalam kembara</strong></p>
<p>Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini<br />
wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama<br />
dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh<br />
tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut<br />
perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.</p>
<p>Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus),<br />
dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru<br />
bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,<br />
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia<br />
Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin<br />
Kaykobad.</p>
<p>Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada<br />
Walad, “Kendati saya tak pernah menundukkan kepala<br />
kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan<br />
pengikut setia Anda.” Di kota ini ibu Jalaluddin,<br />
Mu’min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian,<br />
dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra<br />
pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun<br />
kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari<br />
Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di<br />
madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin,<br />
lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun,<br />
Bahaudin Walad meninggal dunia.</p>
<p>Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan<br />
Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan<br />
tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah<br />
kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan<br />
tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid<br />
terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah<br />
tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin.<br />
Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan<br />
latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad<br />
terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia<br />
ke Damakus untuk menambah lmu. 8 tahun menggembleng,<br />
1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin Rumi<br />
pun menggembleng diri sendiri.</p>
<p><strong>Cinta adalah menari</strong></p>
<p>Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah<br />
berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia<br />
timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan<br />
Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana<br />
Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah<br />
senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah,<br />
seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan<br />
menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi<br />
langsung pingsan!</p>
<p>Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu<br />
bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah<br />
yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’<br />
atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang<br />
berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya<br />
kekuasaanku’. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz<br />
itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi<br />
terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams,<br />
ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah,<br />
tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka<br />
menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat,<br />
selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup<br />
tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk<br />
menuju Cinta Ilahiah.</p>
<p>Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya,<br />
membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga<br />
membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang<br />
dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.</p>
<p>Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat<br />
Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu,<br />
Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar<br />
mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat<br />
dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi<br />
Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil<br />
memadahkan syair-syair cinta Ilahi. “Tarian para<br />
darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk<br />
ratapan Rumi atas kehilangan Syams,” jelas Talat.</p>
<p>Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah<br />
berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti<br />
mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat<br />
peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang<br />
mencintai jadi yang dicintai. (Aditya Pradana)</p>
<p><em>*untuk gambar saya emmbed dari : http://destogate.files.wordpress.com</em><br />
<em>**dipetik dari berbagai sumber.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=130&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/biografi-jalaludin-rumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://destogate.files.wordpress.com/2007/09/rumi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">JALALUDIN RUMI</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seumpama Cinta&#8230;</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/seumpama-cinta/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/seumpama-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 17:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Dhiet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Seumpama cinta&#8230;&#8230; Pastilah sifat kekanakan adalah hal yang pertama kita munafikan. Namun selalu muncul tanpa kita sadari dengan hati yang buta. Seumpama cinta&#8230;&#8230; Pastilah kita merasa mati sesaat dengan sembilu tanpa dia di seberang sini. Seumpama cinta&#8230;&#8230; Tak ada jiwa terasa jika memikirkan dia di seberang sana memainkan harpa. Seumpama cinta&#8230;&#8230; Nafasnya adalah hal terindah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=126&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Pastilah sifat kekanakan adalah hal yang pertama kita munafikan. Namun selalu muncul tanpa kita sadari dengan hati yang buta.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Pastilah kita merasa mati sesaat dengan sembilu tanpa dia di seberang sini.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Tak ada jiwa terasa jika memikirkan dia di seberang sana memainkan harpa.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Nafasnya adalah hal terindah yang pernah kita rasakan, walaupun tak senyawa untuk menjadi reaksi.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Terasa menyejukkan untuk mengenangnya walaupun kita diludahi oleh ludah kita sendiri.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Langkah kaki terasa bagai debur ombak berkejaran dengan sepoi utara ketika kita menatap tajam matanya yang terasa sayu.</p>
<p>Seumpama cinta&#8230;&#8230;<br />
Tebing jingga beserta kaldera Galunggung menabrak sebagian rongga ulu hati dengan seribu banteng anginnya, bila kita menatap matanya yang lunglai.</p>
<p>Pastilah cinta&#8230;&#8230;<br />
Seolah kita tahu bahwa takkan ada akhir. Seolah tak ada Ihram putih menghunus kepala kita jengkal demi jengkal sedetik kemudian. Dan berteriak marah di depan kafan karena kita memuja dengan hati penggalan huruf dari kata kesetiaan, dan kita naif karenanya.</p>
<p><em>(silahkan bercumbu dengan cinta, maka makna yang kau dapat tak cuma sensasi kedahsyatan nya, tapi berdialektikalah&#8230;)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=126&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/seumpama-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Betapa Sombongnya Aku&#8230;</title>
		<link>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/betapa-sombongnya-aku/</link>
		<comments>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/betapa-sombongnya-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 17:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Member</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi Dhiet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://truedhiet.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Betapa sombongnya aku&#8230;. Sementara mereka masih merasakan manisnya keringat orang tua dengan bangganya. Sedangkan aku, telah merasakan pekat pahit keringatku sendiri untuk bertahan hidup di fananya benda bulat ini. Betapa sombongnya aku&#8230;. Sementara mereka hanya sanggup menatap, sedangkan aku memeluk kekayaan terbesar hatiku. Walaupun yang kupeluk hanya tubuh kosong tanpa hati. Betapa sombongnya aku&#8230;. Sementara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=124&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara mereka masih merasakan manisnya keringat orang tua dengan bangganya. Sedangkan aku, telah merasakan pekat pahit keringatku sendiri untuk bertahan hidup di fananya benda bulat ini.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara mereka hanya sanggup menatap, sedangkan aku memeluk kekayaan terbesar hatiku. Walaupun yang kupeluk hanya tubuh kosong tanpa hati.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara mereka bangga dengan kepunyaannya tanpa tahu makna yang dipakai, sedangkan aku telah berdialog &amp; berdialektika dengan makna itu sendiri.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara mereka mereka hanya berkata serupa bahwa rumput tanaman hijau. sedangkan aku, aku melihat bahwa rumput itu jingga yang bermekaran dengan hati dan akarnya yang indah menikam jantung siapapun yang melihatnya.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara mereka berjibaku dengan jati diri . Sedangkan aku berkata persetan dengan jati diri. Sesungguhnya jati diri lahir karena sesuatu yang kita sukai. Dan jati diri bukan pecahnya cabai di lidah kita.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara kau memandang hidup hanya sebatas konsep dualitas. Sedangkan aku berpikir hidup adalah ekuivalen tak terbatas yang cahayanya dapat menembus imaji ruang &amp; waktu keempat.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara aku telah berdialog dengan Tuhan, sedangkan engkau masih bertanya mengapa berdiri mengenakan sejumput kafan. Dan tetap sujud dengan memecahkan darah di kening.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara kau hanya bisa meniru, mengutip dan mencuplik penggalan fatwa pujangga. Sedangkan aku telah bermain dengan makna kata itu sendiri dengan indahnya.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Sementara kau masih memainkan dawai usang tepi jalan. Sedangkan aku bercumbu dengan tuts piano yang bermekaran senada luar angkasa.</p>
<p>Betapa sombongnya aku&#8230;.<br />
Bila aku dapat berkata serupa tapi dengan kuantitas yang termaktub dalam alkitab itu&#8230;</p>
<p><em>( terinspirasi dari orang yang mengatakan bahwa saya itu sombong&#8230; yang saya memang sombong tapi saya berhak memiliki sedikit kesombongan Tuhan.. )</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/truedhiet.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/truedhiet.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=truedhiet.wordpress.com&amp;blog=5518895&amp;post=124&amp;subd=truedhiet&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://truedhiet.wordpress.com/2008/12/23/betapa-sombongnya-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">Member</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
